Style Options



Close X

Calon Mahasiswa

Informasi Calon Mahasiswa 

  1. PENDAHULUAN
  1. Latar belakang

Perairan air tawar memiliki peranan yang sangat penting karena merupakan sumber air rumah tangga dan industri yang murah. Suatu ekosistem dapat terbentuk oleh adanya interaksi antara makhluk dan lingkungannya, baik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan antara makhluk hidup dengan lingkungan abiotik (habitat). Interaksi dalam ekosistem didasari adanya hubungan saling membutuhkan antara sesama makhluk hidup dan adanya eksploitasi lingkungan abiotik untuk kebutuhan dasar hidup bagi makhluk hidup.

Perairan merupakan bagian terbesar bagi semua kehidupan, terutama penting bagi kehidupan organisme di dalamnya karena merupakan tempat atau wadah untuk hidup dan berkembang biak termasuk berbagai habitat akuatik. Habitat akuatik yang dimaksud adalah keadaan di mana air merupakan faktor luar (eksternal) yang utama, sekaligus merupakan medium internal. Habitat akuatik ini meliputi perairan tawar, perairan laut dan estuary (Adsense, 2009).

Perairan tawar adalah sejumlah massa air yang terdapat di daratan, di bawah permukaan bumi, yang tergenang dan mengalir di permukaan bumi. Habitat  air tawar adalah merupakan daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi, dibandingkan habitat laut dan daratan, tetapi bagi manusia kepentingan akan air tawar jauh lebih berarti karena habitat air tawar merupakan sumber air yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik maupun industri. Perairan tawar secara umum terbagi menjadi 2 yaitu perairan mengalir (lotik) dan perairan menggenang (lentik). Perairan lotik dicirikan dengan adanya arus terus menerus dengan kecepatan bervariasi sehingga perpindahan massa air berlangsung terus-menerus contohnya sungai, kali, kanal, parit, dan lain-lain. Perairan menggenang disebut juga perairan tenang yaitu perairan dimana aliran air lambat atau bahkan tidak ada massa air terakumulasi dalam periode waktu yang lama contohnya danau, waduk, rawa (Barus, 2003).

Sungai merupakan ekosistem air tawar yang mengalir, yang mempunyai ciri khas yaitu adanya arus yang merupakan factor yang mengendalikan dan merupakan faktor pembatas di sungai (Suryanti dkk., 2013).

Secara fisik, keadaan Sungai Nanga-nanga kurang baik hal ini ditandai dengan keruhnya air sungai tersebut. Gejala ini tentu akan ikut menyebabkan perubahan faktor-faktor fisika, kimia dan biologinya. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa perikanan yang bidang ilmunya relevan dengan hal tersebut, perlu melakukan penelitian dengan pengukuran-pengukuran parameter yang ada sehingga keadaan Sungai Nanga-nanga saat ini dari segi fisika, kimia dan biologinya dapat diketahui dan digambarkan. Selain itu, praktikum ini juga memberikan pengetahuan dasar tentang sungai kepada mahasiswa, sehingga praktikum ini kiranya wajib untuk dilaksanakan.

 

 

 

 

  1. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari praktek lapang limnologi untuk mengetahui beberapa teknik pengambilan sampel fisika, kimia, dan biologi perairan di lapangan dan mengetahui metode pengukuran sampel fisika, kimia, dan biologi perairan. Sedangkan manfaat dari praktek lapang limnologi ialah memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang beberapa teknik pengambilan contoh fisik, kimia, dan biologinya serta hubungannya antara lingkungan dan organisme perairan di habitat alaminya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA
  1.  Limnologi

Limnologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang  sifat  dan struktur  dari  perairan daratan yang meliputi  mata air,  sungai,  danau,  kolam dan rawa-rawa, baik yang berupa air tawar maupun air  payau. Selain itu,  dikenal  oseanologi  yang  mempelajari  tentang  ekosistem laut.  Limnologi  dan  oskonologi  yang mempelajari  tentang ekosistem laut. Limnologi  dan oksenologi  merupakan  cabang  ilmu  ekologi  yang  khusus  mempelajari  tentang  sistem  perairan yang terdapat dipermukaan bumi (Barus, 2001).

  1. Parameter fisika
  1. Tss

Padatan tersuspensi merupakan massa (mg) atau konsentrasi (mgL-1 ) dalam zat organik maupun anorganik yang dibawa oleh aliran air, sungai, danau atau pergolakan danau. Padatan tersuspensi biasanya terdiri dari partikel halus dengan diameter kurang dari 62µm. Jika konsentrasinya terus meningkat, padatan tersuspensi dapat menyebabkan terjadinya perubahan fisik, biologis dan kimia dari air. Perubahan fisik oleh padatan tersuspensi beberapa diantaranya adalah kurangnya cahaya, perubahan suhu dan saluran waduk yang meningkat ketika zat padat terendap. Perubahan fisik ini dapat memicu perubahan estetis yang tidak diinginkan (Oktaviana dkk., 2020).

  1. Kecerahan

Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktifitas fotosintetis. Kecerahan dapat meningkatkan kekeruhan suatu perairan, sehingga dapat membatasi proses fotosintesa dan produktivitas primer suatu perairan. Hal ini disebabkan karena cahaya matahari yang diperlukan oleh biota perarian terhalang oleh partikel – partikel penyebab kekeruhan sehingga mengurangi penetrasi matahari ke dalam kolom air (Aisyah, 2012).

  1. Kecepatan arus

            Arus adalah gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Manfaat arus bagi banyak biota adalah menyangkut penambahan makanan bagi biota-biota tersebut dan pembuangan kotoran-kotorannya. Kecepatan aliran air yang mengalir berseragam dari permukaan ke dasar, meskipun berada dalam saluran buatan yang dasarnya halus tanpa rintangan apapun. Arus akan paling lambat bila dekat ke dasar. Perubahan kecepatan air seperti itu tercermin dalam modifikasi yang diperlihatkan oleh organisme yang hidup dalam air mengalir, yang kedalamnnya berbeda (Soraya, 2014).

Perairan yang deras, biasanya oksigen tidak menjadi faktor pembatas. Dalam sungai yang jernih dan deras kecepatan oksigen mencapai kejenuhan. Jika air berjalan lambat atau ada pencemar maka oksigen terlarut mungkin di bawah kejenuhan. Pada daerah dangkal seperti sungai, kecepatan arusnya cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi yang lepas, sehingga dasarnya padat. (Soraya, 2014).

  1. Kedalaman

Kedalaman perairan berhubungan erat dengan penetrasi cahaya yang diterima dari bagian permukaan. Semakin dalam suatu perairan maka semakin berkurang penetrasi cahaya yang diterima, apabila faktor lain tidak berpengaruh (Odum,2007).

Kedalaman adalah lokasi sebuah titik yang diukur secara vertikal terhadap ketinggian titik acuan. Kedalaman merupakan jarak dari permukaan sampai dasar. Sungai harus memiliki kedalaman yang berbeda-beda untuk dapat berfungsi dengan baik. Dasar yang dangkal di sekitar tepian dan bagian yang lebih dalam di daerah tengah (Asmawi, 1983).

  1. Debit air

Debit adalah volume air yang mengalir persatuan waktu. Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan limpasan air hujan dari titik terjauh menuju titik kontrol yang ditinjau. Pengukur kecepatan aliran air dapat dijadikan sebagai sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumber daya air permukaan yang ada (Kamal dkk., 2016).

Perubahan volume debit air dan tinggi muka air sering terjadi terutama pada saat musim hujan, banyaknya curah hujan dapat mempengaruhi jumlah volume air yang mengalir dari anak sungai ke sungai utama (Neno, 2016).

  1. Suhu

Suhu merupakan salah satu parameter fisik yang ada di perairan dan sangat bepengaruh terhadap organisme – organisme perairan di dalamnya. Suhu air kali atau air buangan yang relatif tinggi dapat ditandai dengan munculnya ikan-ikan atau hewan-hewan perairan lainnya ke permukaan untuk mencari oksigen. Suhu perairan tidak bersifat konstan, akan tetapi karakteristiknya menunjukkan perubahan yang bersifat dinamis. Banyak faktor yang akan mempengaruhi suhu perairan sehingga nilainya akan berubah dari waktu ke waktu. Suhu perairan tidak bersifat konstan, akan tetapi karakteristiknya menunjukkan perubahan yang bersifat dinamis (Muarif, 2016).

  1. Parameter kimia
  1. DO

Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang tergantung di dalam air dan diukur dalam satuan miligram per liter. Oksigen yang larut dipergunakan sebagai tanda derajat pengotoran limbah yang ada. Semakin besar oksigen terlarut maka menunjukan derajat pengotoran yang relatif kecil. Oksigen terlarut juga merupakan parameter penting untuk mengukur pencemaran air. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, dapat berasal dari hasil proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tanaman air lainnya (Mariyam dkk., 2004).

Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain seperti BOD dan COD (Darti & Iwan, 2006).

  1. BOD

Pembuangan limbah domestik di sungai dapat meningkatkan kadar BOD dalam air. Kandungan nilai BOD yang tinggi di sungai dapat menyebabkan pendangkalan akibat sedimentasi di sungai. Hal ini dikarenakan berkurangnya kadar oksigen dalam air yang masuk sehingga biota akan mengalami kematian (Anwariani, 2019).

  1. Parameter biologi
  1. Nekton

 

 

 

 

 

 

 

  1.  METODE PENELITIAN
  1. Waktu dan tempat  

Praktek lapang limnologi dilaksanakan hari Sabtu, 4 Juni 2022 waktu      07:00 - 12:00 WITA bertempat di Perairan Sungai Nanga-Nanga, Desa Nanga-Nanga, Kelurahan Kambu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari dan praktikum Laboratorium dilaksanakan dua kali yaitu pada hari Senin, 6 Juni 2022 waktu 13:30 - 15:30 WITA dan hari Rabu, 8 Juni 2022 Waktu 16:00 - 18:00 WITA bertempat di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

  1. Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum lapang limnologi dapat dilihat pada tebel 1

No.

Alat dan Bahan

Satuan

Kegunaan

 

  1. Alat

 

 

1.

Thermometer

oC

Mengukur suhu perairan

2.

Secchi Disk

M

Mengukur kecerahan perairan

3.

Patok Berskala

Cm

Mengukur kedalaman

4.

Layangan Arus

-

Mengukur kecepatan arus perairan

5.

Jaring Lingkar Berkantong

-

Menangkap Ikan

6.

Meteran Rol

Cm

Mengukur lebar air

7.

Stopwatch

Detik

Menghitung waktu

8.

Botol You-C 1000

-

Tempat menyimpan sampel DO, BOD dan TSS

9.

Pipet Tetes

Ml

Mengambil larutan

10.

Alat Tulis

-

Mencatat hasil pengamatan

11.

Lakban

-

Memberi tanda pada sampel

 

  1. Bahan

 

 

1.

Larutan MnSO4

-

Standarisasi larutan tiosulfat

2.

Larutan Na. Azida

-

Sebagai larutan titrasi

3.

Kertas Label

-

Memberi tanda pada label

 

  1. Prosedur kerja
  1. Parameter fisika

TSS

  • Menyiapkan botol aqua 600ml
  • Buka tutup botol aqua
  • Masukan kedalam perairan
  • Isi sampai ful botol lalu tutup

Suhu

  • Menyiapkan Thermometer
  • Memasukkan Thermometer ke dalam air sungai dengan kedalaman tertentu.
  • Mengamati perubahan yang terjadi pada Thermometer kemudian mencatat perubahan suhu yang terjadi.
  • Melakukan pengulangan sebanyak tiga kali

Kecepatan Arus

    • Menyiapkan bola pingpong yang sudah terikat tali dengan panjang  2 Meter.
    • Menyiapkan Stopwatch
    • Meletakkan bola di atas perairan sungai bersamaan dengan menyalakan Stopwatch
    • Membiarkan sampai tali yang diikat pada bola tegang.
    • Mencatat waktu saat tali tersebut sudah tegang.
    • Melakukan pengulangan sebanyak tiga kali.

Kecerahan

    • Menyiapkan Secchi Disk yang akan digunakan.
    • Menurunkan Secchi Disk ke dalam perairan.
    • Mengukur panjang dari permukaan air sampai ke lempeng Secchi Disk tersebut.
    • Menghitung persentase kecerahan perairan.

Kedalaman

    • Menyiapkan patok yang telah diikat dengan meteran pita.
    • Menurunkan patok berskala sampai mencapai dasar sungai kemudian mencatat kedalamannya.
    • Mencatat hasil pengukuran

Debit Air

  • Menyiapkan alat meteran roll yang akan digunakan
  • Mengukur lebar sungai dari ujung tepi air sisi kanan dan kiri sungai.
  • Menghitung debit air dengan rumus yang ada.
  • Mencatat hasil pengukuran.
  1. Parameter kimia

DO (Dissolved Oxygen)

    • Memasukkan botol sampel ke dalam perairan dalam keadaan tertutup.
    • Membuka botol di dalam air dan memasukkan air ke dalam botol.
    • Mengangkat botol dari dalam air dan memastikan tidak ada gelembung air  di dalam botol dengan cara mengguncang botol sampel.
    • Memasukkan larutan MnSO4 dan Natrium Azida kedalam botol sampel sebagai bahan pengawet untuk pengujian di Laboratorium

BOD (Biologycal Oxygen Demand)

    • Memasukan botol ke dalam perairan dalam keadaan tertutup
    • Membuka botol di dalam air dan tunggu sampai botol terisi penuh
    • Tutup botol disaat berada di dalam air
    • Mengangkat botol dari dalam air dan pastikan tidak ada gelembung udara di dalam botol
    • Lakban botol agar tidak ada cahaya yang masuk
  1. Parameter biologi

Nekton

  • Menyiapkan alat berupa Jaring Lingkar Berkantong.
  • Menyebar Jaring dengan melingkari gerombolan ikan sasaran dengan bantuan beberapa orang yang memegang setiap sisi.
  • Mengambil hasil tangkapan dan diamati untuk mengetahui jenisnya.
  • Mencatat hasil pengamatan.

 

 

 

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Hasil pengamatan
        1. Parameter Fisika

Table 1. Hasil Pengamatan Parameter Fisika pada Perairan Sungai Nanga-Nanga

Stasiun

1

2

3

Suhu

25?

26?

25?

Kecerahan

4,150 Cm

-

-

Kecepatan Arus

0,057 m/s

0,043 m/s

0,013 m/s

Debit Air

0,195 m3/s

0,032 m3/s

0,091 m3/s

Kedalaman

0,28 Meter

0,253 Meter

0,48 Meter

 

        1. Parameter Kimia

Sampel

DO

BOD

1

6,612

2,054 Mg/l

2

5,34 Mg/l

3,04 Mg/l

3

5,75 Mg/l

4,518 Mg/l

4

6,612

3,287 Mg/l

 

 

 

        1. Parameter biologi

No

Nekton

1

Julung-Julung (Nomorhamphus sp.)

2

Julung-Julung (Dermogenys)

3

Gupi (Poecilia reticulata)

4

Kepala Tima (Aplocheilus armatus)

 

  1. Pembahasan
        1. Parameter fisika

Hasil pengukuran suhu perairan lotik pada sungai  Nanga-nanga yaitu dilakukan ditiga stasiun pada stasiun pertama kisaran suhu diperoleh 25oC pada stasiun ke dua kisaran suhu 26oC dan pada stasiun ke tiga diperoleh kisaran suhu 25oC yang dilakukan pada pagi hari. Dimana pada pagi hari intensitas cahaya matahari cenderung sedikit yang masuk dalam perairan dan juga di pengaruhi oleh adanya hutan yang menutupi perairan tersebut.

Tingkat kecerahan perairan lotik pada sungai nanga-nanga yaitu 4,150 Cm artinya produktifitas perairan yang ada di sungai nanga-nanga cukup tinggi dimana sangat mempengaruhi berlangsungnya fotosintesis di perairan tersebut, kecerahan sangat mempengaruhi proses fotosinstesis karena fotosintesis hanya dapat berlangsung bila intensitas cahaya yang sampai ke sel alga lebih besar daripada suatu intensitas tertentu, kecerahan yang tinggi sangat mempengaruhi laju fotosintesis yang terjadi dan menurun bila kecerahan menurun.

Untuk mengetahui kecepatan arus pada sunga nanga-nanga dilakukan pengambilan sampel pada tiga stasiun yaitu pada stasiun pertama diperoleh kecepatan arus 0,057 m/s dan pada stasiun ke dua diperoleh 0,043 m/s dan pada stasiun ke tiga diperoleh 0,013 m/s

Debit air pada sungai nanga-nanga dilakukan pengambilan sampel pada tiga titik stasiun yaitu pada stasiun pertama diperoleh 0,195 m3/s dan stasiun kedua 0,032 m3/s dan pada stasiun ketiga diperoleh 0,091 m3/s

Untuk mengetahui kedalaman sungai nanga-nanga dilakukakan pengambilan sampel pada tiga titik stasiun pada stasiun pertama diperoleh kedalaman 0,28 Meter pada stasiun kedua diperoleh kedalaman 0,253 Meter dan pada stasiun ketiga diperoleh kedalaman 0,48 Meter dimana pada perairan ini mas ih dangkal sehingga tidak terjadi stratifikasi intensitas cahaya matahari ataupun suhu

        1. Parameter kimia

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh nilai dissolved oxygen (DO) yang dilakukan dengan pengabilan sampel sebanyak empat botol sampel pada sampel pertama diperoleh hasil 6,612 pada sampel kedua 5,34 Mg/l  pada sampel ketiga 5,75 Mg/l  dan pada sampel keempat diperoleh 6,612  hari hasil yang diperoleh dapat dikatakan kondisi ini sudah cukup baik untuk organisme akuatik yang menempatinya

Hasil pengukuran Biologycal Oxygen Demand (BOD) atau jumlah oksigen terlarut dalam ppm dilakukan dengan pengambilan sampel sebanyak empat botol sampel pada sampel pertama diperoleh hasil 2,054 Mg/l pada sampel kedua diperoleh 3,04 Mg/l dan pada sampel ketiga diperoleh 4,518 Mg/l dan selanjutnyaa pada sampel keempat diperoleh hasil 3,287 Mg/l

        1. Parmeter biologi  

Dari hasil pengamatan yang dilakukan disungai nanga-nanga diperolah beberapa jenis ikan diantaranya Julung-Julung (Nomorhamphus sp.), Julung-Julung (Dermogenys), Gupi (Poecilia reticulata), Kepala Tima (Aplocheilus armatus)